Di jagad Internet kita menemukan beragam layanan, seperti IRC, IM, e-mail, VoIP, Web, dan lain-lain. Layanan-layanan baru terus tumbuh dan berkembang, begitu pula dengan Web. Dahulu, Web digunakan oleh organisasi, perusahaan, maupun individu, untuk mempromosikan produk atau usaha mereka. Kita mengenal website profil perusahaan, profil organisasi, dan website pribadi.

Website-website di atas biasanya memiliki konten yang statis, bersifat satu arah, dan sepenuhnya di bawah kendali webmaster. Kalaupun ada yang meng-update kontennya secara berkala, seperti website koran atau berita, mereka tetap melibatkan penggunanya dalam menentukan konten. Beberapa website koran daerah yang online saat ini pun masih belum beranjak dari konsep awal Web di atas, yang saat ini kita kenal dengan nama Web 1.0.

Partisipasi Pengguna

Berbeda dengan Web 1.0 yang statis dan satu arah, Web 2.0 melibatkan pengguna dalam membangun konten. Contoh yang paling sederhana adalah membuka website Google. Ketikkan kata kunci, kemudian klik tombol Search. Ya, Anda akan menemukan puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan halaman yang setiap halamannya berisi sepuluh link ke alamat website lain, yang mengandung kata kunci yang Anda cari.

Pertanyaannya, siapakah yang menulis berpuluh-puluh halaman yang berisi link-link tersebut? Web master Google-kah? Atau Google menggaji orang-orang untuk menuliskannya untuk Anda? Tentu jawabannya, tidak! Yang menuliskan semua itu adalah pengguna lain. Google hanya menampilkannya untuk Anda.

Selain search engine, website yang melibatkan pengguna untuk membuat konten adalah website social networking, contohnya Friendster. Developer Friendster hanya menye diakan halaman kosong, seperti halnya Google, yang berisi form untuk diisi oleh penggunanya. Seluruh konten Friendster dibangun oleh jutaan penggunanya di seluruh dunia.

Partisipasi pengguna inilah yang membedakan Web 2.0 dengan Web 1.0. Jika dalam Web 1.0, konten sepenuhnya dibangun oleh pengelola website, sedangkan pada Web 2.0 melibatkan para pengguna untuk membangun konten untuk website mereka. Selain search engine dan social networking, partisipasi pengguna juga dapat kita temukan dalam blog yang aktif menampilkan RSS dari blog lain.

Web Application

Bagaimana partisipasi dari para pengguna tersebut dapat dikumpulkan, dan menjadi sebuah konten yang dinamis? Tentu saja website-website tersebut harus menyediakan aplikasi yang digunakan oleh para penggunanya. Dalam contoh search engine, misalnya Google menyediakan aplikasi search (yang juga terdapat dalam desktop Anda) untuk mencari data yang dibutuhkan oleh penggunanya.

Demikian pula halnya dengan Friendster yang menyediakan aplikasi pendaftaran, pengisian form, upload foto, mengirim pesan ke pengguna lain, dan juga aplikasi search untuk lingkungan database internal maupun eksternal mereka. Untuk membaca RSS dari blog lain, sebuah blog harus dilengkapi dengan aplikasi pembaca RSS. Intinya, partisipasi pengguna hanya dapat diraih oleh sebuah website, dengan menyediakan aplikasi berbasis web yang kita kenal dengan nama web application.

Pada perkembangan selanjutnya, web application tidak hanya berhenti pada sisi server yang hanya melibatkan pengguna untuk memasukkan data dalam form, mengeksekusinya di server, kemudian mengirimkannya kembali ke client dalam format HTML. Saat ini, para pengembang web application telah membuat aplikasi yang dapat berjalan, dan dieksekusi di komputer client yang kita kenal dengan istilah Rich Internet Application (RIA).

RIA adalah web application yang memiliki fitur dan fungsionalitas yang sama dengan aplikasi desktop biasa. Dalam konsep RIA, interface aplikasi dapat diakses pengguna melalui web browser, tetapi data-data yang di kerjakan dengan web application tetap tersimpan di server. Singkatnya, operating system menjalankan web browser, kemudian web browser menjalankan web application. Anda tidak perlu menginstal aplikasi di desktop, karena semuanya di-download melalui web.

Ada beberapa pendekatan teknis untuk membangun RIA ini, salah satunya yang terkenal saat ini adalah Asynchronous JavaScript and XML (Ajax). Singkatnya, Ajax menggunakan JavaScript sebagai front-end (user interface), dan XML sebagai back-end sebuah web application. Pengiriman data XML dari dan ke web browser dilakukan secara asynchronous, tanpa menunggu eksekusi pengguna.

Contoh web application ini adalah http://docs.google.com/, yang menyajikan web application untuk word editor, dan spreadsheet. Dengannya, Anda tidak perlu menginstal MS Word untuk mengedit naskah ketikan, atau MS Excel untuk mengedit naskah hitungan. Konsekuensinya, Anda tentu saja harus memiliki bandwidth ekstra untuk men-download aplikasi. Memang, tidak semua komponen aplikasi harus Anda download. Web application menggunakan framework (.NET) atau environtment (Java) yang terinstal di komputer Anda.

Sumber: Tabloid PCMild

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus