Pernah menonton film seri Kura-kura Ninja? Anda pasti tahu kendaraan operasional mereka, sebuah mobil van dengan antena parabola di atasnya. Antena tersebut berfungsi sebagai perantara telekomunikasi antara ke empat ninja ketika berada di lapangan, dengan suhu mereka yang berada di markas bawah tanah. Walaupun dari sebuah film kartun, Anda sudah dikenalkan dengan sebuah perangkat telekomunikasi data yang aslinya bernama VSAT.

VSAT (Very Small Aperture Terminal) adalah stasiun bumi yang digunakan untuk menerima dan mengirim data, suara, dan gambar dari dan ke satelit. Disebut very small, karena stasiun ini menggunakan antena dengan ukuran yang sangat kecil, diameter piringannya antara 80 cm sampai 2,4 m. Dengan ukurannya yang kecil inilah, VSAT dapat bisa dibawa-bawa dan diletakkan di mana saja, di dalam hutan, di tengah laut, termasuk di atap mobil van Kura-kura Ninja tentunya.

Ukuran yang kecil serta kemampuan menerima dan mengirim data ke satelit, membuat VSAT menjadi solusi ampuh sarana telekomunikasi untuk daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan teresterial seperti kabel tembaga, serat optik, dan selular. Selain itu, di saat-saat darurat seperti bencana alam, ketika jaringan teresterial biasanya ikut mengalami gangguan, komunikasi data via satelit dapat menjadi solusi instan yang andal.

Anda masih ingat kasus terputusnya sebagian besar koneksi Internet di Indonesia akibat gempa yang melanda Taiwan awal tahun ini, bukan? Di saat sebagian besar pengguna Internet di tanah air tidak dapat mengakses server di luar negeri, ISP yang menggunakan komunikasi data via satelit sebagai cadangan masih dapat melayani para pelanggannya.

Cara Kerja VSAT

Secara sederhana, sebuah stasiun bumi kecil atau VSAT hanya menerima dan mengirimkan data ke satelit komunikasi, berbeda dengan antena parabola yang digunakan hanya untuk menerima siaran televisi via satelit. Selanjutnya, data tersebut dikirimkan ke sebuah stasiun bumi lainnya. Tipe komunikasi seperti ini dikenal dengan nama, point to point. Tapi, sebuah stasiun bumi juga dapat mengirimkan data satelit untuk diteruskan ke beberapa stasiun bumi lainnya sekaligus. Tipe seperti ini kita kenal dengan nama point to multipoint.

Dilihat dari contoh di atas, kita dapat mengetahui bahwa sebuah sistem VSAT bekerja dengan adanya satelit dan stasiun bumi. Satelit yang digunakan oleh VSAT adalah satelit geostasioner. Satelit ini selalu berada di tempat yang sama, sejalan dengan perputaran bumi pada sumbunya. Sampai saat ini, Indonesia telah meluncurkan lima satelit geostasioner, yakni Satelit Palapa-A, Satelit Palapa-B, Satelit Palapa-C, Satelit Telkom-1, dan Satelit Telkom-2.

VSAT menggunakan komunikasi radio frekuensi (RF) dua arah yang disebut uplink dan downlink. RF yang dipancarkan oleh stasiun VSAT ke satelit disebut uplink, dan sebaliknya RF yang dipancarkan oleh satelit ke stasiun VSAT dikenal dengan nama downlink.

Antena VSAT memancarkan sinyal RF ke satelit sebesar 5,925 GHz sampai dengan 6,425 GHz. Sedangkan sinyal RF yang lebih rendah diterima antena VSAT dari satelit sebesar 3,7 GHz sampai dengan 4,2 GHz.

Pendapat umum mengatakan bahwa komunikasi data dengan satelit adalah yang tercepat. Padahal, pada kenyataannya tidaklah demikian. Waktu yang dibutuhkan dari satu titik di atas bumi ke titik lainnya melalui satelit adalah sekitar 700 milisecond, sementara leased line hanya butuh waktu sekitar 40 milisecond.

Hal ini disebabkan oleh jarak yang harus ditempuh oleh data, yaitu dari bumi ke satelit dan kembali ke bumi. Satelit geostasioner sendiri berketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan bumi. Kekurangan lainnya adalah VSAT sangat rentan terhadap perubahan cuaca. Di negeri dengan curah hujan yang tinggi seperti Indonesia, komunikasi VSAT dapat mengalami gangguan atau penurunan kinerja.

Komponen VSAT

Di atas, telah digambarkan dua perangkat yang dibutuhkan dalam sebuah sistem VSAT. Lantas, bagaimana dengan VSAT itu sendiri? Komponen apa saja yang membangun sebuah stasiun bumi kecil ini?

Sebuah VSAT dibagi menjadi dua komponen utama, yakni outdoor unit (ODU) dan indoor unit (IDU). Secara kasat mata, ODU adalah piringan antena dengan diameter antara 80 cm sampai 2,4 m, block up converter (BUC) yang mengirimkan sinyal RF ke satelit atau disebut sebagai transmit (Tx), dan low-noise block converter (LNB) yang menerima sinyal RF dari satelit atau disebut juga receiver (Rx). Sementara IDU terdiri dari modem satelit atau router biasa yang berfungsi untuk memodulasi sinyal yang dikirim ke satelit, dan mendemodulasi sinyal yang diterima dari satelit.

Instalasi kedua komponen sangat sederhana, sehingga dapat dilakukan di mana saja. Untuk menjalankannya, cukup mengarahkan piringan antena ke satelit dan menghubungkan IDU dengan sumber listrik. Kepraktisan instalasi serta kemudahan dalam perawatannya inilah yang membuat VSAT banyak digunakan pada mesin-mesin ATM di tanah air. Mungkin karena alasan ini pulalah, tim Kura-kura Ninja memilih VSAT sebagai media komunikasi mereka, ketimbang harus menggunakan ponsel atau pager.

Sumber: Tabloid PCMild

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus