Jika dibandingkan dengan Malaysia, jumlah programmer dan software house di Indonesia jauh lebih banyak. Tapi mengapa program-program berbahasa Indonesia yang kita temui di pasaran, justru lebih banyak diproduksi Malaysia ketimbang Indonesia? Penguasaan metodelogi pengembangan software konon menjadi penentunya.

Pakar teknologi informasi, Dr. Budi Rahardjo, pernah mengungkapkan hal serupa dalam kolom Opini di majalah InfoLINUX beberapa tahun silam. Menurutnya, banyak software developer di tanah air yang tidak tahu, atau tidak peduli dengan metodelogi pengembangan software. Akibatnya, software-software yang dihasilkan membutuhkan biaya yang tinggi, sulit untuk di-maintenance, serta tidak siap untuk bersaing di pasar software.

Kebanyakan software developer menganggap pengembangan software adalah sebatas melakukan coding menggunakan bahasa pemrograman tertentu. Padahal, coding adalah bagian (salah satu langkah) dalam sebuah metodelogi pengembangan software, yang dikenal dengan istilah Systems Development Life Cycle (SDLC). Tanpa memahami SDLC, alih-alih menjadi solusi, software yang dihasilkan justru akan menjadi sumber masalah baru di kemudian hari.

Apa itu SDLC?

Systems Development Life Cycle didefinisikan oleh Departemen Kehakiman AS sebagai sebuah proses pengembangan software yang digunakan oleh systems analyst, untuk mengembangkan sebuah sistem informasi. Systems Development Life Cycle mencakup kebutuhan (requirement), validasi, pelatihan, kepemilikan (user ownership) sebuah sistem informasi yang diperoleh melalui investigasi, analisis, desain, implementasi, dan perawatan software.

Software yang dikembangkan berdasarkan Systems Development Life Cycle akan menghasilkan sistem dengan kualitas yang tinggi, memenuhi harapan penggunanya, tepat dalam waktu dan biaya, bekerja dengan efektif dan efisien dalam infrastruktur teknologi informasi yang ada atau yang direncanakan, serta murah dalam perawatan dan pengembangan lebih lanjut. Systems Development Life Cycle merupakan pendekatan sistematis untuk memecahkan masalah yang terdiri dari beberapa tahapan. Tiap-tiap tahapan dapat terdiri dari beberapa langkah berikut:

  • Konsep software – mengidentifikasi dan mendefinisikan kebutuhan akan sebuah sistem baru.
  • Analisis kebutuhan – menganalisis kebutuhan informasi dari pengguna akhir sebuah sistem.
  • Desain arsitektural – membuat blueprint desain berdasarkan spesifikasi utama, seperti hardware, software, pengguna, dan sumber data.
  • Coding dan debugging – membuat dan memprogram sistem.
  • Pengujian sistem – mengevaluasi fungsionalitas sistem aktual, dalam hubungannya dengan fungsionalitas yang diharapkan.

Langkah-langkah dalam SDLC

Tidak ada langkah baku dalam Systems Development Life Cycle, tapi ketujuh langkah di bawah merupakan life cycle yang paling sering digunakan oleh para software developer profesional.

  1. Studi kelayakan – Dilakukan oleh software developer dengan mempelajari konsep sistem yang diinginkan oleh pihak manajemen, apakah sistem baru tersebut realistis dalam masalah pembiayaan, waktu, serta perbedaan dengan sistem yang ada sekarang. Biasanya, dalam tahap ini diputuskan untuk meng-update sistem yang ada, atau menggantinya dengan yang baru.
  2. Analisis – Pengguna dan software developer bekerja sama mengumpulkan, mempelajari, dan merumuskan kebutuhan-kebutuhan bisnis.
  3. Desain – Pada langkah ini dilakukan pembuatan blueprint sistem. Di dalamnya termasuk penyesuaian dengan arsitektur telekomunikasi, hardware, dan software untuk pengembangan lebih lanjut, serta membuat model sistem – menciptakan model graphical user interface (GUI), database, dan lain-lain.
  4. Pengembangan – Di sini, barulah para programmer melakukan coding untuk menerapkan desain ke dalam sistem yang sesungguhnya, membuat program, dan menyiapkan database.
  5. Pengujian – Setelah sistem berhasil dikembangkan, langkah selanjutnya adalah pengujian untuk melihat apakah sistem telah sesuai dengan harapan dan kebutuhan pengguna. Dalam tahap ini, juga dilakukan debugging dan penyesuaian-penyesuaian akhir.
  6. Implementasi – Pada tahap ini, software yang telah diuji siap diimplementasikan ke dalam sistem pengguna. Pembuatan user guide dan pelatihan juga dilakukan dalam tahap ini.
  7. Perawatan – Perawatan dimaksudkan agar sistem yang telah diimplemantasikan dapat mengikuti perkembangan dan perubahan apapun, yang terjadi guna meraih tujuan penggunaannya. Help desk untuk membantu pengguna, serta perubahan yang dianggap penting dapat dilakukan terhadap sistem dalam tahap ini.

Jika memperhatikan langkah-langkah di atas, coding dan debugging yang selama ini menjadi pekerjaan utama software developer, hanyalah dua dari tujuh tahapan dalam Systems Development Life Cycle. Di luar kedua langkah tersebut, SDLC lebih banyak berkutat pada urusan manajemen (non-teknis), yang mungkin kurang mendapat perhatian dari pada software developer.

sumber: Tabloid PCMild

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus