Bayangkan, setiap pagi Anda terbiasa membaca lima website berita dan lima blog teman Anda. Berapa waktu dan bandwidth yang tersita untuk membuka kesepuluh alamat web tersebut? Padahal dengan memanfaatkan RSS, Anda cukup membuka satu aplikasi untuk memantau berita dan posting yang ada di kesepuluh alamat web. Anda tidak perlu membolak-balik jendela tab di web browser untuk mencari berita terhangat setiap pagi.

RSS adalah salah satu cara atau metode menyebarkan content yang terdapat pada website, khususnya website berita dan blog, secara cepat dan mudah. Dengannya, beberapa bagian content yang sering diupdate dari sebuah website –seperti judul dan headline berita– dapat ditampilkan oleh website lain. Cara menyebarkan content web seperti ini dikenal dengan nama web syndication. Selain RSS, web syndication lain yang cukup banyak digunakan saat ini adalah Atom.

RSS kali pertama dikembangkan oleh Netscape pada tahun 1999, dan memiliki banyak kepanjangan. Terakhir, ke panjangan resmi RSS mulai versi 2.0 adalah Really Simple Syndication. Sebagaimana web syndication lainnya, RSS menggunakan XML (Extensible Markup Language) sebagai format standar untuk pertukaran data di Internet. Popularitas RSS tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan content di WWW yang didorong oleh bermunculannya banyak blog.

Latar Belakang RSS

Sebelum RSS, telah ada beberapa format yang mirip untuk sindikasi content web, tapi tidak satupun yang berhasil meraih popularitas –atau minimal masih bertahan hingga hari ini– seperti halnya RSS. Kegagalan ini, jika boleh dikatakan demikian, disebabkan masih mendominasinya ide proprietary, bahwa satu format hanya dapat berjalan untuk satu aplikasi.

Gagasan awal untuk melakukan restrukturisasi muncul pada 1995, ketika Ramanathan V. Guha dan developer lain dari Apple Computer’s Advanced Technology Group mengem bangkan spesifi kasi struktur metadata untuk website yang disebut Meta Content Framework (MCF), yang menjadi cikal bakal RSS yang ada sekarang. Versi pertama RSS dibuat oleh Ramanathan V. Guha untuk Nestscape pada 1999, yang digunakan untuk portal My Netscape. Versi pertama ini dikenal dengan nama RSS 0.9.

RSS Feed dan Reader

RSS bekerja dengan cara yang sangat sederhana. Hampir semua website berita, blog, dan podcast sekarang menyediakan file XML yang mengikuti standar RSS. File yang dapat diakses melalui jalur HTTP biasa ini disebut sebagai RSS feed, web feed, atau channel. Jika Anda membuka URL yang disediakan untuk mengakses RSS feed dengan web browser, yang akan tampil adalah teks mentah XML.

Untuk membaca file XML tersebut, dibutuhkan sebuah aplikasi khusus yang dapat mengakses RSS feed, mengenali struktur datanya, kemudian menampilkan isinya. Aplikasi ini disebut sebagai RSS reader, aggregator, atau parser. Dengan kata lain, RSS reader adalah browser khusus untuk menampilkan RSS feed.

Terdapat beberapa macam RSS reader. Beberapa di antaranya dapat dijalankan langsung dari web browser, diintegrasikan dengan aplikasi e-mail client, berbentuk aplikasi standalone di PC, atau bahkan di-embed langsung ke dalam halaman web lainnya. Bukan hanya itu, RSS feed bahkan dapat diakses melalui ponsel atau smartphone. Inilah bukti keluwesan file XML sebagai format dokumen dengan standar terbuka.

Untuk meng-embed RSS reader ke dalam halaman web, Anda dapat menggunakan script untuk membaca dan mem-parsing file XML ke dalam HTML. Script yang digunakan dapat berupa script server-side seperti Perl, ASP, JSP, dan PHP. Anda juga dapat menggunakan script clientside seperti JavaScript dengan parser berbasis web dari pihak ketiga seperti yang terdapat di http://rssgov.com/rssparsers.html.

Pembuatan File RSS Feed

Kebanyakkan website berita besar dan blog dikelola menggunakan aplikasi Content Management System (CMS). Penulis menambahkan berita dan posting ke dalam website mereka melalui aplikasi ini. Selanjutnya, aplikasi CMS meng-generate file HTML yang ditampilkan di halaman web.

Pada waktu yang bersamaan, CMS juga meng-generate file XML yang akan menjadi RSS feed. Aplikasi yang banyak digunakan untuk membuat blog seperti Blogger, LiveJournal, Movable Type, dan WordPress dilengkapi dengan tool untuk membuat RSS feed secara otomatis, setiap kali terdapat posting baru.

Tapi, jika ingin membuat sendiri aplikasi website berita atau blog, Anda harus membuat script untuk meng-generate file XML untuk RSS feed. Anda dapat mencontoh elemen metadata apa saja yang terdapat dalam RSS feed yang disediakan oleh CMS lain yang sudah mapan. Anda dapat mempelajari spesifikasi RSS 2.0 yang didaftarkan di Harvard’s Berkman Center for the Internet & Society dengan alamat URL http://cyber.law.harvard.edu/rss/rss.html.

Selain membuat script sendiri yang meng-generate file XML untuk RSS feed, Anda juga dapat membuatnya secara manual dengan bantuan aplikasi desktop pihak ketiga seperti ListGarden. Apapun pilihannya, menyediakan RSS feed merupakan nilai tambah bagi website atau blog Anda.

Sumber: Tabloid PCMild

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus