Sebentar lagi, serial Flash Gordon atau Star Trek yang pernah diputar pada tahun 1980-an akan berpindah genre, semula science fiction menjadi drama atau bahkan komedi. Mengapa? Karena semua teknologi yang diceritakan dalam film-film tersebut semuanya telah menjadi kenyataan. Salah satunya adalah televisi mobile.

Sebenarnya televisi mobile sudah bukan merupakan teknologi asing. Ponsel yang dilengkapi kemampuan televisi sudah ada di Korea sejak 2002. Awalnya, sinyal televisi untuk ponsel ditransmisikan melalui jaringan selular standar, yang berarti biaya dihitung permenit dan tagihan ponsel pun membengkak.

Pada 2003, Samsung dan Vodafone memperkenalkan ponsel di Korea dan Jepang yang dapat menangkap siaran televisi analog setempat tanpa dikenakan biaya alias gratis. Namun, gambar yang diterima masih patah-patah dan menguras daya baterai ponsel.

Revolusi ponsel TV yang sebenarnya dimulai ketika sejumlah perusahaan telekomunikasi meluncurkan ponsel dengan kemampuan DTV high quality. Secara simultan, mereka juga segera membangun jaringan siaran untuk menayangkan konten untuk ponsel tersebut.

Gagasan Sederhana Ponsel TV

Gagasan dasar dari ponsel TV cukup sederhana: ponsel bertindak sebagai penerima siaran televisi. Sinyal televisi pada dasarnya adalah gelombang radio, dan ponsel menangkapnya setiap saat.

Ponsel TV memiliki kemampuan menerima gelombang radio dalam pita frekuensi yang dialokasikan untuk televisi, selain pita gelombang yang dialokasikan untuk data suara ponsel. Sebagai contoh, sebuah ponsel TV di AS dapat menangkap pita gelombang pada frekuensi 2110-2170 MHz untuk bicara dan frekuensi 54-60 MHz untuk siaran televisi.

Sebagaimana televisi rumah, ponsel TV dilengkapi kemampuan untuk mengeluarkan konten audio dan video dari gelombang radio, serta memproses keduanya untuk menampilkan acara televisi pada layarnya.

Konsepnya biasa saja, tetapi menghantarkan sinyal televisi dalam framework mobile merupakan tantangan tersendiri. Streaming video membutuhkan transmisi data dengan kecepatan tinggi. Jaringan GSM 2G yang ada sekarang menyediakan kecepatan pengiriman-data antara 10 hingga 14 Kbps, dan jaringan 2,5 G yang lebih baru menawarkan kecepatan antara 30 sampai 100 Kbps.

Pada kecepatan 10 Kbps, siaran televisi akan tampak seperti slide show; dan pada kecepatan 100 Kbps, gambarnya masih patah-patah. Selain itu, bandwidth pun menjadi masalah. Data televisi membutuhkan lebih banyak ruang daripada data suara. Tayangan televisi secara langsung untuk ribuan ponsel secara simultan dapat memperlambat jaringan secara signifikan.

Terakhir, menangkap, memproses, dan menampilkan konten video membutuhkan daya baterai yang besar, dan ponsel tidak punya banyak simpanan tenaga.

Namun, sejumlah kemajuan teknologi mutakhir telah menjadikan ponsel TV sebagai sajian di depan mata. Jaringan 3G yang cepat (menyediakan akses Internet broadband untuk ponsel dan perangkat mobile lain) menawarkan kecepatan transfer-data mulai 144 Kbps hingga 2 Mbps.

Teknologi multicasting 3G menghemat bandwidth dengan memungkinkan beberapa pelanggan untuk mengakses aliran siaran tunggal (berbeda dengan unicasting yang bersifat transmisi one-toone). Dan beberapa perusahaan mengimplementasikan teknik transmisi hemat daya seperti time slicing, yang mentransmisikan data dalam interval teratur sehingga penerima dapat dimatikan saat tidak menerima transmisi.

Siaran Ponsel TV

Ada berbagai siaran dan metoda penyampaian yang digunakan saat ini atau sedang dikembangkan. Anda bisa menyaksikan siaran televisi langsung untuk ponsel melalui satelit, BTS, atau jaringan WiFi. Salah satu metoda yang sedang dikembangkan adalah DVB-H (Digital Video Broad casting-Handheld) yang merupakan adaptasi dari standar DVB-Terrestrial yang digunakan untuk menyiarkan DTV melalui udara ke rumah-rumah di Eropa. DVB-H menggunakan orthogonal frequency division multiplexing (OFDM) untuk memanfaatkan bandwidth yang ada secara efisien.

OFDM memungkinkan bagi penyedia untuk mentransmisikan lebih dari satu sinyal dalam satu ruang bandwidth dan menyebarkan aliran data ke beberapa saluran. Mungkin ini kedengaran seperti data yang tidak beraturan, tetapi sistem itu memodulasi sinyal-sinyal berbeda pada frekuensi-frekuensi yang berbeda sehingga penerima dapat memilah mana yang akan didengarkan dan mana yang harus diabaikan, serta menggabungkan beberapa sinyal yang berhubungan yang berasal dari saluran-saluran yang berbeda.

Dalam setup DVB-H, penyedia konten mengirimkan aliran video dan audio langsung melalui sebuah encoder, kemudian encoder tersebut mengirimkannya ke server streaming 3G.

Server kemudian mengirimkan data ke beberapa stasiun siaran yang mengirimkan konten ke kawasan cakupannya. Sistem ini menggunakan teknik time slicing yang telah disebutkan sebelumnya untuk menghemat daya yang dibutuhkan. Kecepatan transfer maksimum untuk sistem DVB-H biasanya adalah 15 Mbps.

DVB-H saat ini sedang dicoba di seluruh dunia, dengan peluncuran komersial pertama yang akan dilakukan pada Juni 2006 di Barcelona, Italia, dan akan diterapkan di Indonesia oleh Nokia dan SCTV tahun itu juga.

sumber: Tabloid PCMild

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus