Pada pertengahan 1990-an, banyak warnet yang berusaha menekan fixed cost dengan membangun diskless workstation komputer client yang tidak dilengkapi dengan harddisk. Proses booting, pengoperasian aplikasi, hingga penyimpanan data, semuanya dilakukan di server melalui jaringan. Meski tidak 100% identik, konsep serupa dapat kita temukan pada cloud computing.

Katakanlah Anda seorang CIO (Chief Information Officer) di sebuah perusahaan. Salah satu tanggung jawab Anda adalah pengadaan hardware dan software yang tepat untuk semua karyawan. Membeli unit komputer saja belum cukup, Anda juga harus membeli aneka software yang dibutuhkan oleh karyawan.

Saat perusahaan berkembang dan terjadi penambahan karyawan, Anda harus mengalokasikan dana untuk membeli unit komputer beserta software baru pula. Jika anggaran perusahaan untuk divisi teknologi informasi pas-pasan, dijamin Anda akan pusing tujuh keliling setiap kali ada karyawan baru. Menggunakan software bajakan? Oh, itu bukan solusi yang bijak.

Tapi kini para eksekutif di divisi teknologi informasi mendapat angin segar. Berkat kemajuan infrastruktur Internet dan teknologi web, Anda bisa menerapkan konsep serupa diskless workstation saat bekerja sebagai operator warnet dulu. Namun, kini aplikasi tidak terpusat di server milik perusahaan Anda sendiri, melainkan disediakan oleh perusahaan lain.

Alih-alih menginstal sekumpulan software pada setiap komputer, Anda cukup menyediakan satu aplikasi (katakanlah web browser dan sistem operasi tentu saja). Selanjutnya, aplikasi ini memungkinkan setiap karyawan login ke dalam sebuah layanan berbasis web yang memiliki sekumpulan aplikasi yang dibutuhkan oleh karyawan dalam menjalankan tugasnya.

Server remote yang dimiliki oleh perusahaan lain akan menjalankan setiap aplikasi yang dibutuhkan karyawan, mulai dari e-mail, word processing, spreadsheet, hingga program analisis data yang kompleks. Sistem inilah yang dinamakan cloud computing. Kehadiran sistem anyar ini diyakini mampu mengubah peta industri software yang telah berlangsung beberapa dekade.

Dalam sistem cloud computing, terdapat pergeseran beban kerja (workload) yang signifikan. Komputer lokal tidak lagi melakukan pekerjaan berat saat menjalankan aplikasi. Sebagai gantinya, jaringan komputer (Internet) yang akan menanggung sebagian besar beban kerja. Kebutuhan hardware dan software pada sisi client pun menurun.

Satu-satunya yang harus dimiliki oleh komputer lokal adalah interface untuk masuk ke dalam sistem cloud computing, dan itu adalah web browser. Kehadiran netbook yang rata-rata memiliki spesifikasi di bawah notebook dan PC desktop, serta maraknya berbagai aplikasi berbasis web adalah bukti sekaligus indikator bahwa kita tengah berada di awal era cloud computing.

Bila Anda pernah menjajal beberapa aplikasi Web 2.0 seperti Zoho (office suite), Pixlr (image editor), atau yang paling sederhana Yahoo! Mail (e-mail client), berarti Anda telah memiliki pengalaman ber-cloud computing. Alih-alih menjalankan Microsoft Office, Adobe Photoshop, dan Outlook Express, untuk kebutuhan di atas, Anda hanya perlu menjalankan web browser plus dukungan jaringan Internet yang kuat.

Arsitektur Cloud Computing

Berbicara tentang sistem cloud computing, akan sangat membantu bila kita membaginya menjadi dua kelompok, yakni: front end dan back end. Keduanya terhubung melalui sebuah jaringan (Internet). Front end terletak pada sisi pengguna atau client. Sementara back end adalah bagian “awan” dalam sistem ini (dalam diagram jaringan Internet kerap digambarkan sebagai awan).

Front end mencakup komputer (atau jaringan komputer) client, dan aplikasi yang dibutuhkan untuk mengakses sistem cloud computing. Tidak semua sistem cloud computing memiliki interface yang sama. Untuk mengakses layanan Web 2.0 seperti email berbasis web hanya dibutuhkan web browser biasa, seperti Firefox, Internet Explorer atau Opera.

Namun ada pula sistem cloud computing yang memiliki aplikasi sendiri (proprietary) yang harus diinstal di komputer client. Sementara itu, pada sisi back end dari sistem cloud computing terdapat beragam komputer, server, dan sistem penyimpanan data, yang kesemuanya menciptakan “awan” bagi layanan komputasi.

Secara teori, sebuah sistem cloud computing mencakup semua program komputer yang dapat Anda bayangkan, dari data processsing hingga video game. Biasanya, setiap aplikasi dijalankan dan memiliki server sendiri (dedicated server). Sebuah server pusat mengatur jalannya sistem, seperti memonitor lalulintas, dan permintaan client untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Bila sebuah perusahaan cloud computing memiliki banyak client, maka kebutuhan akan ruang penyimpanan data (storage space) pun akan membengkak. Sistem cloud computing paling tidak membutuhkan ruang penyimpanan data dua kali lebih besar daripada kebutuhan riil untuk membuat salinan (copy) semua data client. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kehilangan data bila terjadi gangguan pada media penyimpanan utama.

sumber: Tabloid PCMild

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus