Sudah nonton film Predestination (2014)? Cepetan nonton deh, menurut saya film tentang perjalanan waktu ini sangat keren. Bisa bikin pusing kalo ga bener-bener memahami alur ceritanya. Istilah kerennya itu mind-blowing.

Menceritakan tentang seorang yang ditugaskan melakukan perjalanan waktu untuk mencegah pelaku pemboman yang telah membunuh banyak orang. Di tiap waktu yang dikunjunginya, ada hal-hal yang sulit diprediksi. Sayangnya di sini saya tidak akan membahas tentang filmnya. Yang saya akan bahas adalah pertanyaan yang muncul saat menonton film ini:

“Kalau kamu bisa kembali ke masa lalu, hal/kejadian apa dalam hidupmu yang mau kamu ubah?”

change-your-life


Tentu saja pertanyaan ini sering muncul, biasanya saat kita melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan. “Seandainya waktu itu aku ga…”, begitulah yang pasti kita katakan. Saya pun dulu demikian. Ada satu-dua hal yang saya ingin ubah seandainya saya bisa kembali ke masa lalu. Kesalahan dan kegagalan yang sangat saya sesalkan, dan saya tahu persis, seandainya saya punya kesempatan lagi, saya yakin bisa memperbaikinya. Tapi saat ini saya punya pemikiran lain, seandainya bisa ke masa lalu, saya tidak akan mengubah apa-apa.

Waktu adalah hal yang kompleks. Ada sebab dan akibat (kausalitas). Diri kita yang sekarang adalah hasil dari semua yang telah kita alami di waktu-waktu sebelumnya. Mengapa saya tak mau mengubah apa-apa di masa lalu adalah karna saya tidak tahu bagaimana jadinya saya setelah itu. Syukur kalau kemudian jadi lebih baik. Bagaimana kalau malah sebaliknya, tambah buruk? Apa harus kembali lagi terus memperbaikinya lagi?

Misalnya saja mesin waktu ditemukan, dan kemudian ada pihak yang ingin kembali ke masa lalu mencegah bom atom Hiroshima dan Nagasaki meledak, tentu saja itu adalah hal yang baik. Dapat menyelamatkan ratusan ribu nyawa yang melayang sekejap karna ledakan bom yang sangat dahsyat. Tapi itu berarti bisa saja Jepang menolak menyerah dan perang akan berlanjut. Nyawa tetap berjatuhan. Kemerdekaan Indonesia bisa jadi kemudian hanya pemberian, bukan perjuangan. Lebih buruk lagi, kita malah mungkin belum merdeka.

Kemudian yang paradoks adalah kalau saat kita mengubah masa lalu, ternyata perubahan itu mengakibatkan diri kita mengalami hal yang sangat buruk, meninggal, misalnya. Maka kita akan terhilang; lenyap. Perubahan tersebut malah tak ada artinya. Bisa menangkap poin saya, kan?

Diri kita yang sekarang, apa yang kita miliki dan terima, bagaimanapun keadaannya adalah yang paling pantas. Sedikit spoiler film Predestination, tokoh utamanya kembali ke masa lalu karna ingin mengubah masa lalunya, yang ternyata yang dilakukannya itu tak berpengaruh. Dia tak mengubah apa-apa, karna itulah takdirnya. Saya telah belajar mensyukuri dan menerima bahwa kesalahan dan kegagalan yang pernah saya lakukan di masa lalu lah yang membentuk saya sekarang. Dari kegagalan dan kesalahan lah saya belajar banyak, bukan dari keberhasilan.

Sendainya saya bisa kembali ke masa lalu, mungkin saya hanya akan mengamati saja supaya bisa belajar lebih banyak lagi. Dan kalau cuma itu yang akan dilakukan, sebenarnya malah tak perlu mesin waktu. Asal kita rajin mendokumentasikan momen-momen dalam bentuk foto, video atau tulisan, kita tinggal membuka itu saja, dan kita akan ‘kembali ke masa lalu’.

Tambahan (05/01/2015)

Baru kepikiran. Kalo teknologi yang bisa membawa kita kembali ke masa lalu –atau paling tidak melihat masa lalu– ditemukan, itu bagus bagi kepolisian atau pengadilan untuk mengungkap kasus-kasus yang rumit. Contohnya kerusuhan Mei ’98, dan G 30 S.

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus