Terlalu mahal !!! Saya yakin itulah yang Anda katakan saat melihat harga software-software buatan produsen-produsen software ternama.

Sebagai contoh, tahukah Anda harga software Adobe Photoshop CS5? Di Bhinneka, harganya adalah Rp 6,9 juta.

Terlalu mahal !!!

Saya yakin Anda akan mengatakan itu saat mengetahui tarif seminar-seminar pengembangan diri dengan pembicara-pembicaranya yang sudah terkenal. Sebagai contoh, tarif seminar/workshop HitmanSystem (pusat pengembangan diri dan pelatihan cinta, romansa, serta dinamika sosial) adalah Rp 600 ribu s/d Rp 3 juta.

Ngapain sih buang-buang uang untuk itu? Photoshop bisa download, gratis. Atau beli di toko software bajakan, paling mahal Rp 50 ribu (pengalaman ;)). Ngapain juga buang-buang uang untuk ikut seminar-seminar itu.

Paragraf di atas itu Indonesia banget yah? Gue banget. Sesuatu banget. Alhamdulillah yah. #terSyahrini

Daripada buang-buang uang untuk beli sesuatu yang bisa didapat dengan gratis, atau seminar-seminar tersebut, lebih baik beli BB. Lebih baik liburan ke Bali.

Oke, kalau Anda termasuk dalam kategori orang-orang yang mengatakan hal-hal tersebut, Anda perlu memahami hal yang satu ini. Pengeluaran: Konsumtif dan Investasi. Pengeluaran ada 2 jenis, yaitu yang bersifat konsumtif, dan pengeluaran yang bersifat investasi.

Contoh pengeluaran yang bersifat konsumif adalah membeli pulsa untuk telpon-telponan sama pacar. Beli BB untuk gaya. Beli kamera DSLR untuk gaya. Beli sepeda fixie untuk gaya. Pertimbangannya biasanya adalah mahal atau nggak, mahal atau nggak, dan mahal atau nggak. :hammers

Contoh pengeluaran investasi: beli BB untuk gaya, supaya bisa dapat cewek cakep. Investasi kan? :ngakaks

Maaf ngawur, contoh investasi yang benar: membeli kamera DSLR untuk membuka jasa fotografi/pemotretan. Pertimbangannya biasanya: kapan bisa balik modal? Berapa keuntungan yang bisa didapatkan?

Contoh-contohnya sebenarnya masih banyak, tapi saya yakin Anda bisa cari sendiri ;). Intinya adalah, hal-hal mahal yang saya sebutkan di awal tadi Anda pandang sebagai konsumsi belaka, atau investasi? Anda menggunakan sofware Adobe Photoshop, apakah software tersebut membantu Anda dalam bekerja? Apakah setelah Anda mengikuti seminar-seminar tersebut hidup Anda berubah?

Jika Anda memandang itu semua sebagai investasi, ‘mahal’ bukanlah pertimbangannya. Ini memang agak masuk ke prinsip bisnis. Tapi menurut saya penting. Jika Anda bisa mendapatkan 3 juta sebulan, saya rasa harga Rp 6,9 juta yang Anda keluarkan untuk membeli software original Adobe Photoshop tidaklah terlalu mahal. Jika Anda benar-benar bisa mengembangkan diri, menjadi pribadi yang berkualitas, disukai banyak orang, saya rasa Rp 3 juta bukanlah harga yang mahal.

Tidak ada salah dan benar di sini. Juga tidak ada keharusan. Semua adalah pilihan.

Teliti dan pelajari baik-baik sebelum mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu. Saat Anda mampu membedakan mana hal-hal yang bersifat konsumtif dan mana yang bersifat investasi, serta Anda mampu melakukan pilihan yang benar, saya yakin Anda tidak lagi akan mengeluh:

Terlalu mahal !!!

catatan: Pliss, saya memohon dengan sangat, jangan tanya, saya pake software-software original atau tidak. Thanks.

sumber: http://www.jonru.net/kiat-sukses-duh-harganya-kok-mahal-banget-ya/

Incoming search terms:

pengeluaran yang bersifat investasi

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus