Dalam sebuah acara wisuda di Stanford University tahun 2005, Steve Jobs berkata,

“…the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking.”

Passion adalah kata yang sangat populer beberapa tahun belakangan ini. Banyak motivator menjadikannya sebagai sebuah mantra. “Follow your passion.” Kita pun kerap kali menggunakannya, merujuk pada sesuatu yang kita lakukan dengan penuh gairah; semangat yang menggebu-gebu; penuh kecintaan. Tapi apa sebenarnya Passion itu?

Dalam kamus Bahasa Inggris (Oxford), definisi “passion” adalah “strong and barely controllable emotion”. Google Translate menyarankan kata ‘renjana’ untuk ‘passion’. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan ‘renjana’ sebagai “rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi”). Passion populer dengan makna gairah dan keinginan yang kuat. Tapi saya menemukan bahwa kata Passion serupa dengan kata Anarkis dan Komunis yang saat ini populer dengan makna yang berbeda dengan makna awalnya. Tidak, saya tidak bilang bahwa makna yang saat ini populer tersebut salah. Saya hanya ingin kita tahu makna awalnya. Salah memaknai sesuatu dapat mengakibatkan kita salah pemahaman; salah tujuan; salah sasaran; salah jalan; salah cara.

Passion berakar dari kata Latin “pati” yang berarti penderitaan. Kata Inggris “patient” yang berarti orang yang sakit juga berasal dari kata ini. “Patient” dalam bahasa Inggris juga berarti kesabaran. Inggris kemudian mengambil kata “passion” ini dari Perancis. Baru di abad 16, kata yang awalnya bermakna ‘kemampuan menahan penderitaan’ ini bergeser menjadi ‘gairah’. Mengetahui hal ini, saya akhirnya dapat memahami judul film “The Passion of the Christ”. Awalnya saya sempat bingung, mengapa ‘Passion’? Di mana gairah pada film yang penuh dengan adegan kekerasan tersebut? Ternyata makna passion yang dipakai adalah penderitaan.

Saya mengakhiri postingan singkat ini dengan beberapa pertanyaan. Apa yang menjadi passionmu saat ini? Apa itu benar-benar passionmu? Apa kamu rela ‘menderita’ demi passionmu tersebut? Atau itu hanya sekadar hobi, yang dengan gampang dapat kita tinggalkan? Jika kamu tidak dibayar bahkan tidak dihargai saat melakukannya, apa kamu akan tetap mengerjakannya?

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus