Karena kebahagiaan hanyalah by-product, atau hasil atau efek, dari sebuah hidup yang bermakna. Dalam mimpi aneh tersebut, saya awalnya merasa bahagia karena kekuatan super itu memberikan makna-baru bahwa saya adalah pria ajaib yang bisa memakai pakaian apa saja yang saya inginkan dengan mudah. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena setelah itu saya tidak berhasil menemukan makna atau kegunaan-kegunaan lainnya.

Dalam mimpi itu, saya malah merasa depresi karena kebahagiaan (baca: kekuatan super) yang saya dapatkan itu. Kebahagiaan tersebut tidak menyumbangkan arti yang signifikan dalam diri saya sebagai manusia. Tidak peduli seberapa berkilau kebahagiaan tersebut, jiwa kita tidak akan menikmatinya dengan baik, karena jiwa tidak terprogram membutuhkan rasa puas maupun bahagia, melainkan membutuhkan rasa keterhubungan yang bermakna.

Kita butuh merasa terhubung dengan diri sendiri. Kita butuh merasa memiliki hidup yang berarti. Kita butuh merasa bahwa kita memiliki kegunaan, fungsi, atau makna ketika menjalani hidup di dunia ini. Tanpa poin tersebut, maka semua kelebihan, kekuatan, kemewahan yang kita miliki akan terasa seperti cangkang kosong saja.

Kebermaknaan itu juga mencakup keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, yakni makna yang didapatkan dari manusia lainnya dan Tuhan. Kita sibuk belajar dan bekerja seumur hidup demi dapat memenuhi rasa kebermaknaan tersebut. Semakin banyak kita menemukan dan menciptakan makna di sana-sini, semakin jiwa kita memiliki perasaan utuh, lengkap, dan sempurna. Pada tahap inilah, kebermaknaan menelurkan efek samping yang ditunggu-tunggu, yakni kebahagiaan.

Kebahagiaan akan cepat menjadi sebuah kehampaan ketika ia tidak dapat dibagikan kepada orang lain. Menyebarkan kebahagiaan sesering mungkin kepada semua orang akan menciptakan makna yang besar dalam hidup. Nyaris tidak ada seorangpun yang bisa menghapus seluruh kebahagiaan tersebut karena itu berarti dia harus memusnahkan semua orang yang pernah Anda bagikan kebahagiaan sehingga kerja keras Anda menjadi terasa sia-sia.

Yang kadang membuat kita merasa pahit dan sakit hati -baik ketika dipecat oleh atasan, dikalahkan lawan, dikhianati sahabat, diputus kekasih, ditolak keluarga- adalah karena pada saat itu kita merasa diri kita tidak bermakna. Kita merasa seseorang atau keadaan menyangkali arti dari diri dan kerja keras kita. Kita merasa seseorang atau keadaan telah merebut (salah satu) makna hidup kita. Tapi berikan waktu yang cukup dan pengaruh dari orang-orang yang tepat, maka kita akan mampu memulihkan diri kembali ketika menyadari adanya makna-makna lain dalam hidup yang pernah kita taburkan dahulu.

Tidak selamanya juga hal yang menyakitkan itu memberikan kesedihan dan kesengsaraan. Seorang ibu yang telah bersusah payah menghabiskan waktu sembilan bulan ‘mengeram’ bayinya justru merasakan kebahagiaan. Ketika harus menjalani proses bersalin yang begitu menyakitkan, sang ibu juga merasa bahagia karena akhirnya dapat menghadirkan belahan jiwanya ke dalam dunia.

Seorang ayah juga merasa begitu bahagia melihat anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang baik, sekalipun ia harus bekerja mati-matian untuk membayar uang sekolahnya. Seseorang akan dengan bahagia menyumbang salah satu ginjal kepada sang kekasih hatinya yang mengalami gagal ginjal.

Dalam kisah antologinya, Victor Frankl bercerita tentang seorang dokter yang sedang sangat berduka karena istrinya yang meninggal. Frankl bertanya, “Jika Anda yang meninggal lebih dahulu, bagaimana perasaan istri Anda?” Dokter itu menjawab bahwa sang istri akan mengalami keadaan yang sangat sulit dan depresi dalam kesendiriannya.

Kemudian Frankl menjelaskan bahwa dengan meninggalnya sang istri lebih dahulu, wanita itu justru beruntung karena tidak perlu mengalami kesengsaraan karena hidup sendiri. Sang dokter yang harus menerima beban kesengsaraan tersebut agar istrinya bisa terlepas. Penjelasan Frankl tersebut membuka paradigma sang dokter sehingga ia bisa menerima keadaannya dengan lapang dan meneruskan sisa hidup berbahagia.

Ibu bersalin, ayah pekerja keras, kekasih donor ginjal, dan sang dokter di atas tidak berada dalam keadaan yang membahagiakan. Namun ketika mereka menemukan makna yang lebih besar dan menyesuaikan diri dengan baik, mereka merasakan kebahagiaan dengan sendirinya dan bangga akan pengalamannya.

Ingat bahwa kita memang berhak untuk menjadi bahagia, namun kita tidak diciptakan untuk merasa bahagia. Kebahagiaan adalah sebuah bonus prestasi yang diberikan secara otomatis ketika kita berkonsentrasi melakukan tugas yang sebenarnya, yakni menemukan dan menciptakan hidup yang bermakna. Atau dalam bahasa Abraham Maslow, mengaktualisasikan diri.

Bonus tidak seharusnya menjadi fokus. Prestasi tidak bisa menjadi obsesi. Akan selalu ada orang yang mendapatkan bonus lebih banyak, prestasi lebih tinggi dibandingkan kita. Itu sebabnya mereka yang berfokus pada kebahagiaan akan menemui bahwa dirinya serba berkekurangan, bahkan lupa bahwa dirinya lebih membutuhkan kebermaknaan daripada kepuasan.

Saat ini, saya jadi punya perspektif yang baru untuk menanggapi mimpi dua hari yang lalu tersebut. Saya menemukan bahwa setiap orang bisa menjadi Superhero, tanpa peduli apakah ia memiliki kekuatan super atau tidak. Superhero adalah seseorang yang memiliki sensitifitas tinggi untuk memahami pentingnya fungsi atau makna dalam hidupnya, dan berkomitmen tinggi untuk mewujudkan hal tersebut.

Ia memiliki jalur empati yang sangat besar untuk menghubungkan kesadaran dirinya dengan impiannya serta orang-orang di sekitarnya. Menjadi Superhero bukan tentang menyelamatkan bumi dari ancaman besar; itu hanya hiperbola dalam dunia komik saja. Seorang Superhero menyadari panggilannya untuk menciptakan makna dalam kehidupan sehari-hari, daripada menghabiskan waktu mengejar kebahagiaan belaka.

Menurut Maslow, terdapat kurang dari 1 persen orang dewasa yang berhasil mencapai aktualisasi diri yang bermakna. Jadi jika Anda bisa mengembangkan sensifitas dan kesadaran diri akan makna tersebut, maka Anda termasuk orang yang super jarang. Kehidupan bermakna yang Anda miliki dan bagikan kepada orang lain, itulah kekuatan super luar biasa yang melayakkan kita disebut Superhero.

Anda dan saya sudah memiliki potensi kesadaran akan makna tersebut, karena kita memang diciptakan untuk meaningful life, not happiness. Tantangan saya untuk Anda hari ini adalah apakah Anda BERSEDIA untuk menjadi kelompok satu persen Superhero itu?

Dicopy paste dari: http://www.hitmansystem.com/blog/being-superhero-180.htm

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus