Terinspirasi twitnya @pangeransiahaan malem ini, jadi pengen nulis-nulis tentang bola juga di blog. Dan kayaknya topik yang lumayan menarik adalah tentang dualisme PSSI saat ini. Ini cuma tulisan sotoy, jangan terlalu serius ya. :D

Hari minggu tanggal 18 Maret 2012 kemaren, PSSI mengadakan sebuah Kongres yang dilaksanakan di kota tempat tinggal saya, Palangka Raya. Selain kongres, juga diadakan pertandingan persahabatan antara Timnas U-23 melawan klub lokal Persepar. Hal-hal yang dibahas antara lain adalah membahas beberapa program kerja, anggaran PSSI, dan mengakui ISL sebagai kompetisi resmi (sebelumnya ISL tidak diakui).

kongres-pssi

Di tempat lain, pada tanggal yang sama, sekumpulan orang-orang yang menyebut dirinya Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) juga melaksanakan Kongres Luar Biasa. Kongres ini menghasilkan PSSI sendiri yang diketuai oleh La Nyalla Mattalitti.

kongres-KPSI

Jadinya ada 2 PSSI saat ini di Indonesia. PSSI-nya Djohar Arifin, dan PSSI-nya La Nyalla Mattalitti. PSSI = Perduaan Sepakbola Seluruh Indonesia.

Saya jujur kurang tau pangkal masalahnya ini sebenarnya dimana. Setahu saya, ceritanya kurang lebih begini. Dulu, waktu Sir Nurdin Halid masih berkuasa, dimana waktu itu kompetisi utama sepakbola indonesia (yang sangat kacau) cuma ISL, pengusaha Arifin Panigoro mencetuskan IPL yang menawarkan sistem kompetisi dan pendanaan yang (katanya) lebih baik. Jadilah dualisme kompetisi. Namun saat itu IPL tidak diakui oleh PSSI.

Setelah Sir Nurdin Halid lengser dan digantikan oleh Djohar Arifin, IPL akhirnya diakui, namun malah ISL yang dianggap ilegal oleh PSSI. Dan karna dianggap ilegal, pemain-pemain yang berlaga di klub yang mengikuti kompetisi ISL tidak boleh masuk timnas. Padahal saat itu bintang-bintang timnas banyak yang bermain di ISL. Ujung-ujungnya adalah pengunduran diri dari pelatih timnas U-23 saat itu, Rahmad Darmawan, yang tidak setuju dengan kebijakan PSSI tersebut. Sangat disayangkan karna saat itu Tim Garuda Muda sedang bersinar di cabang sepakbola SEA Games 2011, walaupun di final kalah adu penalti melawan Malaysia.

Hal-hal buruk terus menimpa timnas. Pada kualifikasi Piala Dunia, Indonesia gagal total. Kegagalan yang ditutup dengan skor mencolok 0-10 di kandang Bahrain. Bahkan di Turnamen Sultan Hasanah Bolkiah Trophy pun timnas masih tidak bisa unjuk gigi. Di final kalah melawan Brunei Darussalam 0-2.

Menurutku sepakbola indonesia saat ini sudah sampai pada titik terendah. Orang bijak bilang kegagalan itu adalah sukses yang tertunda. Sayangnya kesuksesan sepakbola indonesia itu selalu tertunda. Tapi tidak, saya tidak bicara tentang kegagalan. Kegagalan, juga kesuksesan, adalah sebuah dampak, akibat, atau hasil dari sesuatu. Dalam hal ini manajemen timnas yang dikelola oleh PSSI.

Orang sakit ga akan bisa berjalan dengan baik. Orang sakit tidak pantas ikut lomba. Inilah yang sedang terjadi: PSSI kita sedang sakit. Sepakbola kita saat ini sedang sakit. Makanya walaupun timnas bermain dengan gemilang, kita cuma selalu ‘hampir juara’.

Sampai kapan mau kaya gini? Sampai PSSI bisa sembuh total. Sampai bapak-bapak yang katanya peduli dengan keadaan sepakbola Indonesia itu mau membuang egonya dan mendahulukan kepentingan banyak orang. Sampai pemerintah mau campur tangan terhadap persepakbolaan kita.

Tunggu dulu. Kalau pemerintah campur tangan, PSSI bukannya akan di-skors FIFA? Yah, mau di-skors atau tidak, menurutku ga akan terlalu berpengaruh pada organisasi yang sedang sakit ini. Opsinya kan cuma 2, bapak-bapak di PSSI-KPSI dan ISL-IPL mau saling mengalah, atau pemerintah mengambil tindakan tegas. Karna opsi yang pertama hampir tidak mungkin, menurutku yang kedua terlihat lebih masuk akal.

PSSI-FIFA
Lebih baik sepakbola kita vakum sejenak untuk menyembuhkan sakitnya. Lebih baik kita sejenak cuma bisa jadi penonton. Saya sangat mencintai sepakbola Indonesia. Karna itu saya rela mengalah, merelakan timnas diskorsing agar dapat membereskan masalahnya terlebih dahulu, dibandingkan melihat kegagalan-kegagalan timnas yang disebabkan oleh kepentingan-kepentingan pribadi di PSSI.

nurdinPercaya ga percaya sayup-sayup saya mendengar suara tawa najis Sir Nurdin Halid yang ternyata secara diam-diam juga masih memantau kondisi sepakbola nasional saat ini.

Mwahahahaha… :ngakaks Kan tadi udah dibilang, jangan terlalu serius ya. :D

image source: google, detikfoto

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus