Jangan galau dulu yah kalo denger kata ‘mantan’. Karena kalau kamu punya mantan, berarti kamu juga adalah seorang mantan. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas saat ini, melainkan saya sekarang adalah mantan guru. Ya, sekarang saya tidak lagi mengajar.

Kontrak saya sudah berakhir sejak bulan april yang lalu dan tidak saya perpanjang. Sengaja tidak diperpanjang karna memang dari awal saya hanya ingin mencari pengalaman kerja di sana.

Jadi guru bukanlah hal yang buruk. Pekerjaan itu sangat mulia. Guru adalah ‘orang tua’ kita. Kecuali saya tentunya :D . Walaupun murid-murid memanggil saya ‘pak’, tapi saya masih terlalu muda dan masih malas untuk menjadi orang tua. Meski begitu, saya ingin mencoba pekerjaan lain. Saya masih ingin mencari tantangan baru dan meniti karir. Mumpung masih muda.

Seperti yang pernah saya posting sebelumnya di awal saat saya jadi guru, itu adalah hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tapi kemudian saya jalani, dan ternyata saya enjoy. Berbagi ilmu ternyata ‘gue banget’. Suasana kerja yang nyaman, rekan-rekan kerja yang suportif, jam kerja yang tak membebani, akses internet gratis, juga siswi-siswi yang manis-manis (haha :D ), membuat saya sangat nyaman dan merasa betah.

Tapi saya ingat tujuan awal saya, bahwa saya di sana hanya mencari pengalaman kerja. Saya juga memang tidak berniat mengakhiri karir di sana. Maka dengan sangat berat hati, saya melepas pekerjaan tersebut.

Dengan sangat berat hati.

Satu hari sebelum saya keluar, saya galau maksimal. Logika mengatakan kalau saya mau maju, saya memang harus keluar dari semua kenyamanan ini. Tapi perasaan hati berkata tidak. Terlalu banyak hal dan kenyamanan yang akan saya lepas. Saya seolah akan mereset hidup. Ah, melepaskan memang bukan pekerjaan yang gampang.

Tapi, bukankah hidup ini memang soal ‘melepaskan’?

Saat kita lahir ke dunia, kita harus melepaskan tali pusar. Saat balita, kita melepaskan kenyamanan berguling-guling di lantai untuk bisa berjalan. Kita tumbuh menjadi remaja dengan melepas predikat anak-anak, sambil berkata ke orang dewasa (walaupun cuma dalam hati), “aku bukan anak kecil lagi!” Kita memasuki dunia kuliah dengan melepaskan seragam putih abu-abu yang penuh kenangan. Memasuki dunia kerja, kita harus melepas (hampir) semua idealisme dan ilmu, karna memang idealisme harus terbentur realita, dan ilmu yang dipelajari saat duduk di bangku kuliah itu tidak terpakai. Saat memutuskan menikah, kita harus melepaskan semua kemewahan yang hanya didapatkan saat melajang. Saat berkeluarga, kita harus melepaskan semua ego, karna hidup kita bukan diri kita sendiri lagi, tapi hidup kita adalah hidup keluarga kita. Saat mati… ga usah dijelasin ah. :D

Hidup ini penuh dengan ‘melepaskan’. Melepaskan hal lama untuk mendapatkan hal baru. Melepaskan hal buruk untuk mendapatkan hal baik. Dan dengan demikian, kita semua adalah mantan. Mantan bayi, mantan anak kecil, mantan remaja, mantan alay, mantan jomblo (amin! :D ), dan sebagainya.

Saat ini, saya adalah mantan guru. :)

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus