Saya pernah tertarik dengan komentar salah seorang teman saya, “…susah kalau emang ga ada kesadaran dari dirinya sendiri…”

Nah, kita mungkin sering mendengar komentar tersebut. Kita juga mungkin pernah berkomentar seperti itu. Biasanya saat kita melihat seseorang yang bandel, susah diatur, susah ditegur, dan susah berubah. Sayangnya pernyataan tersebut hanya valid jika yang bersangkutan emang sudah punya kesadaran.

Yang saya maksud dengan ‘kesadaran’ di atas adalah bukan kesadaran (siuman), melainkan kemampuan seseorang mengetahui suatu hal/perbuatan dan konsekuensi-konsekuensinya, sehingga dia dapat mempertimbangkan dengan cukup matang sebelum memutuskan untuk melakukannya. Di mana ini adalah hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa. Saya kasih tau sesuatu, dirinya yang teman saya maksud di kalimat awal pembuka posting ini adalah murid (SMA) kami sendiri. 🙂

Saat saya mendengarnya, sebenarnya saya ingin menyanggah dan mendiskusikan hal itu. Tapi saat itu keadaan tidak memungkinkan (sudah mau masuk ke kelas) sehingga saya lebih memilih untuk menulisnya di sini. “Hei, anak SMA mah belum sadar hal yang begituan.” Kira-kira itulah yang ingin saya katakan kepada teman saya tersebut. Kedewasaan memang tidak bisa diukur dari umur seseorang. Tidak semua orang yang tua secara umur adalah orang yang dewasa. Dan bisa saja ada anak-anak yang di usia muda mereka sudah cukup matang dalam berpikir. Tapi kita tahu bahwa mayoritas anak SMA memang belum dewasa. Itulah mengapa kita disarankan untuk tidak memberi mereka cukup kebebasan.

Jangan dulu berharap ‘kesadaran’ dari mereka (anak-anak). Jika mereka susah diatur, tetap cari cara untuk mengarahkan mereka. Gunakan cara-cara yang kreatif. Tapi perlu diingat, jangan pula selalu menganggap bahwa mereka adalah anak-anak yang harus selalu diatur. Tidak. Maksud saya bukan begitu. Saya sendiri selalu merasa tidak nyaman jika diperlakukan seolah saya tidak mengerti apa-apa. Cara terbaik yang saya tahu adalah bertanya pendapatnya tentang hal yang dilakukannya dan konsekuensi-konsekuensinya. Gunakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini: “Menurut kamu kalau kamu (isi sendiri kasusnya), terus gimana?” “Kalau orang tua kamu tau ini gimana reaksi mereka?”, dsb. Tapi gunakanlah suasana berdiskusi yang nyaman. Bahkan kalau bisa lakukan setelah makan. Perut kenyang membuat kita dapat berpikir lebih jernih. 😀 Jangan pula menghakimi dan menuduh.

Saya belajar bahwa kesadaran dari diri sendiri itu muncul saat kita melakukan introspeksi. Mendapatkan beberapa sudut pandang dan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Ini juga tak bisa dilakukan sekali dua kali saja, melainkan harus sering-sering dilakukan agar jadi terbiasa. Susah memang, tapi untuk mendapatkan hal-hal baik memang perlu perjuangan.

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus