Dimulai dari postingan yang lalu, saya akan mencoba rutin (semoga bisa!) membuat semacam postingan berseri yang berjudul “Hal-Hal yang Jarang Kita Pikirkan”. Judul yang sudah menggambarkan isinya, walau topiknya akan selalu berlainan.

Nah kali ini saya akan membahas tentang berpikir itu sendiri. Karna saya yakin ini (pertanyaan yang) sangat jarang kita pikirkan: “mengapa kita berpikir?” dan “haruskah kita berpikir?”

Saya mencoba menggunakan bahasa seringan dan sesantai mungkin sehingga definisi baku tidak akan saya masukan di sini. Tapi satu hal yang jelas: bagaimanapun bentuknya, manusia pasti berpikir. Saat saya menulis postingan ini, saya berpikir, kata-kata apa saja yang harus saya ketik agar maksud saya dapat terekan dan tersampaikan? Saat kalian membaca tulisan ini, kalian berpikir, ini tentang apa? Bermanfaatkah buat saya? Hari ini hari Sabtu, ada yang libur, ada yang masih bekerja/sekolah. Kita berpikir, hari ini mau ngapain aja? Atau jika kita sudah merencanakan suatu kegiatan/acara, kita berpikir, mau pake baju apa? Apa yang akan kita lakukan di sana?

Ini yang saya simpulkan: proses berpikir dimulai dari mengajukan pertanyaaan (di dalam otak).

Namun ini masih belum menjawab pertanyaan pertama di atas, mengapa kita berpikir?

“Hidup adalah soal memilih”. Setuju? Saya anggap setuju aja ya biar cepet. :p Nah, bagaimana kita memilih sesuatu? Bagaimana kita memutuskan sesuatu? Tentu saja dengan memikirkannya terlebih dahulu. Itulah alasan mengapa kita harus berpikir.

Pertanyaan kedua: “haruskah kita berpikir?”

Persoalan harus atau tidak harus ini selalu rumit. Tapi kita mengharapkan orang-orang berpikir sebelum bertindak. Berpikir sebelum menulis. Berpikir sebelum berbicara. Supaya apa? Ya supaya enak aja. Supaya tidak ada yang merasa tersinggung. Supaya tidak ada yang dirugikan, termasuk yang melakukannya.

Tapi ini sering kita temui: orang-orang yang terlihat ngomong dulu baru mikir, bertindak dulu baru mikir. Yah, dalam situasi-situasi tertentu, kita memang diharapkan untuk bisa mengambil keputusan dengan cepat.

“Udaah ga usah kebanyakan mikir deh. Kalo dipikirin terus ntar malah ga dilakukan. Jalanin aja dulu. Mengalir.”

Tentang hal ini, sesungguhnya kita bukannya tidak berpikir, hanya saja kita akan lebih mengandalkan naluri, sesuatu yang tersimpan dalam otak hasil dari pengalaman-pengalaman. Ada juga yang menyebutnya feeling, perasaan.

“Aku ga ngerti betul, tapi feeling-ku mengatakan aku harus blablabla.” Kedengaran familiar?

Hanya saja membuat keputusan berdasarkan naluri ini sangat rentan bermasalah, karna perhitungan untung rugi yang kurang matang. Masih mendingan kalau hasilnya positif. Kalau negatif, kita cenderung kurang siap menanggung konsekuensinya.

Haruskah kita berpikir? Tentu saja harus. Atau pertanyaan ini sedikit dikembangkan, “haruskah saya mencurahkan pikiran kepada hal yang sedang saya hadapi/jalani ini?” Nah, kalau pertanyaannya begitu, jawabannya ya kita mau ga mau tentu harus berpikir.

Tujan saya membuat tulisan ini tentu mengajak kita untuk lebih mikir. Untuk lebih menggunakan otak kita. Di jaman teknologi yang serba gampang dan instan ini, manusia jadi sangat manja sehingga mulai jarang menggunakan otaknya. Banjir informasi juga membuat kita pusing. Mana yang harus dipercaya? Perkataan siapa yang bisa dipegang? Kita jadi malas mikir. Ingat, kebaikan/altruisme dimulai dari sebuah pemikiran. Demikian juga kejahatan. Hal-hal seperti kebahagiaan dan kesepian juga ditentukan oleh pikiran.

Kita mungkin tak selalu sependapat, tapi saya akan selalu respek jika kita masih mau menggunakan akal sehat, masih mau mikir. Terutama untuk bertanya/berdiskusi sebelum melakukan sesuatu.

Malu bertanya sesat di jalan. Malas bertanya bakal bikin sesat berpikir.

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus