Palangka Raya –dan beberapa daerah lainnya di Indonesia– punya sebuah keunikan, yaitu memiliki 3 musim dalam setahun: musim kemarau, musim hujan dan musim kabut asap. Sebuah pertanyaan yang timbul dalam pikiran saya: “Memangnya tahun kapan di Palangka Raya tidak mengalami kabut asap?”

Untuk hal ini saya terlalu malas mengumpulkan data dari tahun ke tahun dan ingin mengandalkan ingatan saja. Silakan koreksi jika saya salah. Seingat saya, kebakaran lahan memang terjadi setiap tahun, karna kegiatan bakar-membakar untuk membuka lahan ini memang sudah jadi semacam budaya di wilayah-wilayah seperti Palangka Raya di mana lahan-lahan kosong di pinggiran kota sudah mulai digunakan. Praktis soalnya. Dan karna kebakaran terjadi tiap tahun, kabut asap pun terjadi tiap tahun. Yang membedakan hanyalah kadar dan lama waktunya. Saya pikir pun asalkan terkendali dan dilakukan di saat yang tepat, membakar lahan harusnya tak jadi masalah yang besar.

“Asalkan terkendali dan dilakukan di saat yang tepat”, saya yakin di sinilah letak permasalahan utamanya.

Melarang perorangan atau perusahaan untuk sama sekali tidak melakukan pembakaran adalah kewajiban. Namun kita harus realistis: tidak akan bisa dituruti 100% oleh mereka yang punya kepentingan/keperluan. Sama seperti menganjurkan orang-orang untuk menggunakan helm (standar) saat mengendarai sepeda motor. Pasti ada saja yang bandel atau malah tidak tahu/sadar/mengerti. Karna itu selain melarang, kita juga harus melakukan antisipasi lainnya. Misalnya seperti yang telah Presiden Jokowi perintahkan untuk membuat embung atau kanal bersekat di lahan gambut yang bertujuan agar bagian bawah gambut, yang selama ini membuat api susah dipadamkan secara total, bisa tetap basah meski musim kemarau.

Atau bisa juga dengan mencoba mengimplementasikan cara-cara baru dalam menangani kebakaran di lahan gambut yang memang harus disadari tak bisa ditangani jika hanya menggunakan cara pemadaman api biasa.

Atau dengan edukasi dan sosialisasi. Tentang kapan waktu yang tepat untuk membakar lahan dan bagaimana caranya agar dapat terkendali.

Atau yang sedikit ekstrim, kalau tidak mau dibilang akibat putus asa, yaitu dengan memodifikasi cuaca dengan hujan buatan. Memang menyedot dana yang sangat besar, namun cukup efektif untuk memadamkan api dan menyegarkan udara. Menurut saya sih kalau dikalkulasi sebenarnya biayanya sebanding saja dengan dana yang terbuang jika menggunakan cara biasa yang hasilnya masih kurang.

Itu dari sisi kebakarannya. Sekarang dari sisi kita yang menghirup asapnya. Sejak awal kabut asap ini masih tipis, kalau tidak salah sekitar 3 bulan yang lalu, saya sudah langsung membiasakan diri menggunakan masker hijau medis andalan kita semua. Lah, berapa banyak yang berpikiran sama? Sampai sekarang saja masih saya lihat orang yang dengan pede-nya berkeliaran di jalanan tanpa menggunakan masker. Saya penasaran, apa di hidung atau saluran pernapasannya itu punya filter khusus sehingga partikel debu/abu kabut asap ini tidak akan masuk ke paru-parunya? Terhadap mereka, saya salut sekaligus kasihan. Kasihan karna mereka tidak kasihan terhadap tubuhnya sendiri. Maaf kalau ada yang ngerasa.

Ah, sebenarnya masih banyak solusi-solusi yang kita bisa lontarkan demi mengantisipasi musim kabut asap yang tiap tahun terjadi ini. TIAP TAHUN loh, TIAP TAHUN.

Ini bukan pesimistis, tapi jika kita melakukan hal yang sama dengan tahun sebelumnya, yang terjadi ya sudah pasti hal yang sama. Atau kita mau terus melakukan hal yang sama namun mengharapkan hal yang berbeda? Dalam hal ini, bisa diprediksi kalau tahun depan pasti akan ada kabut asap lagi.

Yang jadi pertanyaan, apa kira-kira yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? Atau kita cuma bisa pasrah sambil mempersiapkan kata-kata keluhan dan umpatan untuk musim kabut asap tahun depan?

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus