(Lanjutan dari Part I)

Ternyataaaa… saya salah. Salah besar. Eh, ngga juga sih. ;) Ya pokoknya ada beberapa hal dulu yang perlu dipahami. Yang pertama adalah konsep metabolisme tubuh kita. Analoginya mirip dengan sebuah mesin. Sebuah mesin yang menyala.

Sebuah mesin dapat menyala karena ada bahan bakarnya. Dan bahan bakar itu dibakar agar mesin dapat bekerja. Nah, bahan bakar di sini adalah makanan bagi kita. Sedangkan proses pembakarannya itu metabolisme. Tapi tubuh kita ini tidak se-simple mesin. Tubuh kita sangat kompleks.

Jadi kebanyakan orang berpikir, jika input makanan dikurangi, maka metabolisme tubuh akan membakar lemak, sehingga berat badan jadi turun. Jadi, jarang makan = berat badan turun.

Logikanya bagus sih. Sayangnya tubuh kita juga ternyata menyesuaikan hal tersebut. Saat kita jarang makan, ternyata kegiatan metabolisme tubuh juga berkurang. Yang artinya lemak di tubuh ga akan dibakar. Berat badan akan bertahan.

Saya mengetahui hal ini saat saya mem-follow @dennysantoso. Jika ingin berat badan turun, kita seharusnya meningkatkan frekuensi makan, tapi porsinya dikurangi. Artinya makan sering-sering aja, bisa 5-6 kali sehari, tapi dalam porsi yang kecil. Kurangi makan makanan yang mengandung karbohirat dan lemak, terutama yang digoreng. Inilah diet sejati.

Jika menerapkan pola makan yang sehat ini, dijamin berat badan akan berkurang. Tapi mungkin memakan waktu yang agak lama. Jika ingin sedikit lebih cepat, maka harus dikombinasikan dengan olahraga.

Olahraga yang seperti apa saja? Nanti deh di part III. :D

Togap Tartius

Freelance web developer. Mantan guru komputer. Suka membaca dan berpikir. Hobi mengutak-atik komputer baik software maupun hardware.

More PostsWebsite

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus